Jakarta, brillianjustice.online  – Upaya pemadaman yang berlangsung lebih dari 24 jam berujung pada langkah hukum cepat otoritas Hong Kong, setelah polisi menahan pimpinan perusahaan konstruksi terkait kebakaran besar di kompleks apartemen Wang Fuk Court. Musibah ini menewaskan sedikitnya 94 orang dan ratusan lainnya masih dinyatakan hilang.

Api baru dapat dikendalikan pada Jumat (28/11/2025) dini hari, setelah melalap dua blok hunian bertingkat tinggi yang berada dalam kawasan delapan menara di distrik Tai Po, wilayah utara Hong Kong. Saat insiden terjadi, seluruh area tengah menjalani renovasi dan tertutup perancah bambu serta jaring hijau pelindung.

Wakil Direktur Dinas Pemadam Kebakaran, Derek Armstrong Chan, menyebut sebagian besar korban ditemukan di dua blok yang hangus terbakar. Tim penyelamat juga menemukan beberapa korban selamat, termasuk satu orang yang ditemukan di tangga gedung, meski Chan tidak merinci kondisi mereka.

Menurut Chan, regu pemadam menghadapi kondisi ekstrem selama operasi: suhu sangat tinggi, asap pekat, serta puing perancah yang terus runtuh saat mereka menembus lantai-lantai atas.

“Kami perkirakan api dapat benar-benar padam malam ini,” ujar Chan melalui Reuters. “Kami akan terus menyemprotkan air untuk menurunkan suhu.”

Pimpinan Perusahaan Konstruksi Ditangkap

Polisi Hong Kong menahan dua direktur dan seorang konsultan teknik dari Prestige Construction, kontraktor yang bertanggung jawab atas proyek perawatan bangunan tersebut.

Mereka dijerat dugaan pembunuhan tidak berencana, lantaran diduga menggunakan material renovasi yang tidak aman dan memperburuk penyebaran api.

Superintendent Eileen Chung mengatakan pihaknya menemukan indikasi kelalaian serius.

“Kami memiliki dasar untuk meyakini pihak perusahaan bertindak sangat lalai sehingga menyebabkan kebakaran menyebar tak terkendali dan memicu banyak korban jiwa,” tegasnya.

Dalam penggeledahan, otoritas menyita dokumen tender, daftar karyawan, 14 komputer, dan tiga ponsel.

Kebakaran Paling Fatal Sejak 1948

Hingga Kamis tengah malam, jumlah korban meninggal yang terkonfirmasi mencapai 83 orang, menjadikannya kebakaran paling mematikan sejak insiden gudang tahun 1948 yang menewaskan 176 orang.

Pemerintah juga mencatat 279 orang masih hilang, angka yang belum mengalami pembaruan selama 24 jam terakhir.

Di tengah suasana duka, seorang perempuan berusia 52 tahun terlihat mencari putrinya sambil memegang foto kelulusan sang anak di luar pos penampungan—satu dari delapan lokasi yang menampung sekitar 900 warga.

“Dia dan ayahnya belum keluar,” ucapnya sambil menangis. “Kami tidak punya air untuk memadamkan gedung kami.”

Dari Vatikan, Paus Leo mengirim telegram kepada Uskup Hong Kong, Kardinal Stephen Chow Sau-yan, menyampaikan “solidaritas spiritual” bagi seluruh korban dan keluarga yang berduka.

Bantuan Mengalir, Ratusan Warga Tidur di Mal Terdekat

Kepala Eksekutif Hong Kong John Lee mengumumkan pembentukan dana bantuan sebesar HK$300 juta (sekitar US$39 juta) untuk para penyintas. Sejumlah perusahaan besar ikut memberikan donasi, termasuk XiaomiXpengGeely, serta yayasan amal yang berada di bawah pendiri Alibaba, Jack Ma, dan perusahaan teknologi Tencent.

Pada malam kedua setelah kebakaran, puluhan warga memilih tidur di pusat perbelanjaan terdekat untuk memberikan ruang lebih besar bagi korban lain di pos evakuasi resmi. Pemandangan warga—dari anak sekolah hingga lansia—terlihat memadati area tersebut dengan kasur lipat, selimut tebal, hingga tenda kecil. Relawan terus berdatangan membawa makanan ringan dan kebutuhan harian.

Kompleks Wang Fuk Court dihuni lebih dari 4.600 warga dalam sekitar 2.000 unit apartemen. Kawasan ini merupakan bagian dari program rumah bersubsidi pemerintah sejak 1983, yang selama ini menjadi tumpuan keluarga kelas menengah di tengah krisis perumahan Hong Kong.)red.al)