KEDIRI, brillianjustice.online — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri menetapkan Kelurahan Gayam dan Kelurahan Ngampel di Kecamatan Mojoroto sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan banjir tertinggi di kota tersebut. Penetapan ini berdasarkan hasil kajian risiko bencana yang dilakukan sepanjang tahun 2024–2025.
Sebagai langkah mitigasi, BPBD menggelar simulasi penanganan bencana banjir di Taman Brantas, Kamis (27/11), dengan melibatkan warga dari dua kelurahan tersebut. Latihan ini dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi banjir yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Wali Kota Vinanda Tekankan Pentingnya Antisipasi Bencana Hidrometeorologi
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menegaskan bahwa cuaca ekstrem masih menjadi ancaman serius, terutama bagi kawasan permukiman yang berada di dekat aliran Sungai Brantas.
“Curah hujan yang tinggi dapat memicu banjir. Karena itu warga harus dibekali kemampuan dasar menghadapi situasi darurat,” ujar Vinanda.
Simulasi tersebut melibatkan unsur BPBD, tenaga kesehatan, TNI/Polri, relawan Search and Rescue (SAR), serta masyarakat setempat.
Latihan: Evakuasi Warga, Penyelamatan Korban Hanyut, hingga Penanganan Luka
Dalam simulasi, peserta mempraktikkan berbagai skenario darurat, mulai dari evakuasi warga terdampak banjir, teknik penyelamatan korban yang terseret arus, hingga penanganan korban luka dan tidak sadarkan diri.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Kediri, Joko Arianto, menyebut sedikitnya 20 warga Gayam dan Ngampel dilibatkan. Menurutnya, dua wilayah tersebut pernah terdampak genangan hanya dalam waktu hujan singkat.
“Dua minggu lalu hujan sebentar saja sudah menimbulkan genangan di Gayam. Beberapa rumah bahkan sempat terendam. Karena itu kami fokus melatih warga dua kelurahan ini,” ungkap Joko.
Ia menambahkan sebagian wilayah di Kelurahan Mojoroto juga masuk kategori rawan banjir.
Puncak Musim Hujan Diprediksi Januari, Warga Diminta Tetap Waspada
Berdasarkan perkiraan BMKG, puncak musim hujan akan terjadi pada Januari mendatang. Namun, Joko menegaskan bahwa potensi cuaca ekstrem bisa muncul kapan saja, sehingga kewaspadaan harus terus dijaga.
“Kami akan terus melakukan langkah antisipasi dan memastikan masyarakat memahami prosedur penyelamatan,” pungkasnya.(red.al)

0 Komentar